Konser Bukan Ancaman Keimanan?

Konser Bukan Ancaman Keimanan?
Loading thumbnail status

Hakikat hidup manusia di dunia ini tidak lain kecuali untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah menciptakan kita bukan untuk sekadar mengejar kesenangan dunia, bukan pula untuk mengisi waktu dengan hal-hal sia-sia, tetapi untuk tunduk, taat, dan mengabdi kepada-Nya. Ibadah itu luas maknanya, tidak terbatas pada sholat dan puasa, tapi mencakup seluruh ketaatan dan meninggalkan larangan-Nya. Maka ketika kita berbicara tentang konser, musik, atau hal-hal yang ramai diperdebatkan hari ini, pada hakikatnya kita sedang bicara tentang sejauh mana hati kita menjaga tujuan hidup itu.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. az-Zariyat ayat 56)

Belakangan ini di salah satu kota di Jawa Barat ramai pembicaraan soal konser beberapa band. Ada sebagian ormas yang menolak dengan alasan simbol-simbol yang bertentangan dengan syariat, seperti simbol dajal, baphomet, ateisme, hingga jargon freemason. Namun saya pribadi tidak sepemahaman dengan cara mereka berdakwah. Boleh saja kita memiliki idealisme, tapi kita tidak berhak memaksa orang lain menerima semua yang kita yakini. Dakwah itu harus dengan hikmah, dengan kelembutan, dengan adab. Bukan dengan frontal menolak sesuatu tanpa adab yang benar.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. al-Baqarah ayat 256)

Namun begitu, bukan berarti masalah ini tidak penting untuk direnungkan lebih dalam. Saya sendiri meyakini haramnya musik, tapi saya paham sebagian orang mengambil pendapat lain. Karena kita orang awam, tentu kita tidak punya kapasitas berfatwa, kita hanya punya pilihan, yaitu mengikuti pendapat ulama yang kita percaya keilmuannya. Maka saya tidak akan membahas soal halal-haram musik di sini, tapi saya ingin mengajak untuk menimbang dari sudut yang lebih dalam, tentang keimanan.

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (QS. Yasin ayat 17)

Pengertian Iman

Iman itu bukan hanya soal keyakinan di dalam hati. Iman itu mencakup keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan oleh lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Itulah mengapa setiap perkara maksiat selalu punya dampak terhadap hati kita, terhadap iman yang kita bawa. Maka pertanyaannya, apakah benar konser tidak mengancam keimanan?

Meninggalkan Sholat

Tidak dapat dipungkiri bahwa konser umumnya berlangsung sejak siang hari hingga malam. Mereka yang sudah mendapatkan tempat terbaik di barisan depan tentu akan berat meninggalkan posisinya hanya demi menunaikan sholat. Secara realitas, jarang ada yang mau melakukannya.

Padahal sholat adalah tiang agama. Meninggalkannya bukan dosa biasa, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah al-Aslami)

Iman yang benar akan menjaga seorang hamba untuk tetap menunaikan kewajiban yang paling besar. Meninggalkan sholat adalah pengkhianatan terhadap amanah iman. Jika iman bertambah dengan ketaatan, maka meninggalkan sholat pasti mengikisnya.

Ikhtilath (Campur Baur)

Di tempat seperti konser, tidak ada sekat yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Mereka bercampur baur tanpa udzur syari, berdesakan, tanpa batasan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika melihat laki-laki bercampur baur dengan perempuan di jalan,

“Minggirlah kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berhak berjalan di tengah jalan, kamu wajib berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita merapat di tembok/dinding sampai bajunya terkait di tembok/dinding karena rapatnya. (HR. Abu Daud, Bukhari, dengan sanad keduanya dari Hamzan bin Abi Usaid al-Anshari, dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu)

Ikhtilath adalah sebab besar timbulnya fitnah. Iman menuntut kita menjaga diri dari sebab-sebab kemaksiatan. Iman yang sehat akan membawa seorang hamba untuk menjauh dari segala sebab yang bisa menjerumuskan hati pada perkara yang diharamkan. Maka bercampur baur seperti ini jelas melemahkan keimanan.

Tabarruj (Berhias Berlebihan di Depan Umum)

Tidak asing lagi pemandangan dalam konser, perempuan mengenakan pakaian mencolok, berhias, memakai parfum, bahkan berjoget di depan umum tanpa rasa malu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada dua golongan penghuni Neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) … Dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, al-Baghawi, shahih)

Tabarruj adalah bagian dari perbuatan yang membuka pintu maksiat. Iman menuntut kita menjaga kehormatan, menjaga adab, dan menjaga malu. Ketika seorang wanita tampil tabarruj, atau seorang laki-laki ridha menyaksikannya, maka ini adalah perkara yang mencabik-cabik iman. Iman yang kokoh akan menjaga diri dari semua ini.

Tidak Menutup Aurat

Lelaki mengenakan celana di atas lutut, perempuan lebih-lebih lagi tidak menutup aurat dengan sempurna. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah, hasan)

Lelaki wajib menutup aurat dari pusar hingga lutut. Wanita seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Membuka aurat di tempat umum tanpa rasa malu adalah bentuk pelanggaran syariat yang nyata.

Iman menuntut kita menjaga aurat. Menjaga aurat adalah menjaga kehormatan, dan kehormatan adalah bagian dari kehormatan iman. Jika aurat dibiarkan terbuka, maka perlindungan iman semakin lemah.

Tidak Menjaga Pandangan (Gadhul Bashar)

Di tengah keramaian konser, bagaimana mungkin seseorang mampu menjaga pandangan? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. an-Nur ayat 30)

Pandangan adalah pintu hati. Dari pandangan lahir syahwat, dari syahwat lahir maksiat. Iman yang hidup akan menuntut kita untuk menundukkan pandangan, bukan memanjakan mata dengan perkara yang diharamkan. Maka meninggalkan gadhul bashar jelas akan merusak dan mengikis keimanan.

Conclusion

Semua perkara ini kembali kepada satu hakikat yang jelas. Iman bukan sekadar keyakinan dalam hati. Iman adalah ketaatan lahir dan batin. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Konser bukan sekadar soal musik atau hiburan, tapi tempat berkumpulnya sebab-sebab kemaksiatan yang nyata. Meninggalkan sholat, bercampur baur tanpa udzur syari, tabarruj, membuka aurat, dan membiarkan pandangan lepas kendali, semuanya adalah sebab-sebab yang mengikis keimanan.

Maka jawaban atas pertanyaan, apakah konser tidak mengancam keimanan? Jelas, mengancam keimanan. Bukan karena musiknya saja, tapi karena seluruh sebab-sebab maksiat yang menyertainya.

Hidayah hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala dan semoga kita senantiasa mendapatkan taufik dan hidayah-Nya, Aamiin ya Rabbal alamin.

Semoga bermanfaat,
Wallahu a’lam bish-shawab,
Barakallahu fiikum.