Rumah di Surga

Rumah di Surga
Loading thumbnail status

Setiap orang pasti memiliki harapan untuk suatu hari nanti memiliki rumah, tempat tinggal yang tenang, tempat pulang setelah lelah, tempat memulai dan membesarkan keluarga. Rumah yang di dalamnya ada cinta, keimanan, dan sakinah (ketenangan). Saya pun demikian, meski hari ini belum menikah, belum memiliki rumah sendiri, namun harapan itu ada. Bahkan bukan hanya rumah di dunia, melainkan rumah di surga.

Karena rumah di dunia hanyalah tempat singgah, sebaik-baik rumah pun akan kita tinggalkan. Namun rumah di surga? Itulah tempat tinggal abadi, tempat yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar, taat, dan ikhlas dalam beramal. Tidak ada cicilan di sana, tidak ada ancaman digusur, tidak pula ada rasa cemas kehilangan. Yang ada hanyalah ketenangan, kenikmatan, dan kedekatan dengan Rabb semesta alam.

Kita mungkin belum mampu membangun rumah di dunia, tapi rumah di surga bisa mulai kita bangun dari sekarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan beberapa amalan yang balasannya adalah rumah di surga, yang semoga Allah beri kita taufik untuk bisa mengamalkannya, sedikit demi sedikit, dengan penuh harap dan keyakinan akan janji-Nya.

Salah satu amalan itu adalah membangun masjid. Bukan harus megah atau besar, bahkan yang kecil pun, jika diniatkan ikhlas karena Allah, akan berbuah rumah di surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga. (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Membangun rumah di surga juga dapat diraih dengan menjaga shalat sunnah dhuha dan shalat sunnah rawatib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang shalat Dhuha empat rakaat dan shalat sebelum Zhuhur empat rakaat, maka dibangunkan baginya rumah di surga. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadits ini hasan)

Dalam riwayat lain yang memotivasi untuk menjaga shalat sunnah rawatib, disebutkan bahwa amalan tersebut juga menjadi sebab dibangunkannya rumah di surga bagi pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Rumah di surga juga bisa diraih dengan memperbaiki akhlak dan menjaga lisan. Orang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar, menjauhi kedustaan meski hanya bercanda, serta memperindah akhlaknya, dijanjikan rumah di surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya. (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Ketika seseorang diuji dengan kehilangan anak, namun ia mampu bersabar dan ridha, maka balasannya adalah rumah di surga, yang diberi nama dengan baitul hamdi (rumah pujian). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata, “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku di surga, dan namai ia dengan nama baitul hamdi (rumah pujian). (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dzikir juga menjadi sebab dibangunnya rumah di surga. Ketika seseorang mengingat Allah di tempat yang seringkali melalaikan manusia (seperti pasar), maka hal itu menunjukkan bahwa hatinya hidup dan senantiasa terikat dengan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang memasuki pasar lalu ia melakukan jual beli di dalamnya, lantas mengucapkan: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir; maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan, akan menghapus darinya sejuta kejelekan dan akan membangunkan baginya rumah di surga. (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak, 1: 722)

Demikian pula menjaga kesempurnaan shaf dalam shalat berjamaah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga. (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)

Iman, hijrah, dan jihad juga termasuk amal yang disebutkan dalam hadits sebagai sebab dibangunnya rumah di surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan, ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal. (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Semua amalan-amalan tersebut adalah langkah-langkah kecil untuk membangun rumah yang abadi. Rumah di dunia bisa menunggu, tapi rumah di surga harus mulai dibangun dari sekarang. Tidak perlu menunggu kita punya gaji tetap, tidak perlu menunggu sampai kita menikah, tidak perlu juga menunggu sampai kita jadi ayah.

Semoga Allah jadikan kita bagian dari mereka yang punya rumah di surga, meski hari ini masih menyewa kamar kecil di bumi. Karena yang terpenting bukan besar atau kecilnya rumah di dunia, tapi apakah rumah itu menjadi tempat untuk membangun cinta kepada Allah?

Ya Allah, berikanlah kepada kami rumah yang baik, di lingkungan yang baik, bersama tetangga yang baik, dengan cara dan waktu yang baik. Dan dekatkanlah rumah kami dengan rumah-Mu (masjid), serta bangunkanlah untuk kami rumah yang abadi di surga-Mu.

Wallahu a’lam bish-shawab,
Barakallahu fiikum.